Anak-Anak Penjemput Rezeki di Jalanan: Bagaimana Masa Depan Mereka?

Anak-anak yang menjemput rezeki di jalanan. Foto: Radar Solo

“Jadikan mereka sebagai sahabat, jangan jauhi mereka, rangkul mereka dan beri kenyamanan untuk masa depan yang lebih baik”.

Suatu siang di pinggiran kota dua anak membawa karung dari satu tempat sampah ke tempat sampah berikutnya diantara jalanan dalam terik matahari kota. Didi dan Dini itulah namanya dua  anak yang berjuang menjemput rejeki saat anak seusianya duduk manis berbaring = belajar dalam jaringan selama masa pandemi covid 19.

Membantu  ibu dalam menjemput rejeki di jalanan adalah pilihan kedua anak ini, sebagai pilihan terakhir untuk bertahan hidup diantara hiruk pikuk kota. Tidak semua anak beruntung dapat menikmati segelas susu dan potongan kue tiap pagi sebelum pembelajaran jarak jauh dimulai, sebagian anak harus keluar sejak pagi buta hingga menjelang tengah hari bahkan sampai sore hari.

Amankah mereka berkeliaran di jalanan ditengah pendemi ini? tentu saja tidak kapanpun virus dapat menyerang? apakah mereka memakai masker untuk melindungi diri? Jangankan masker, bahkan seteguk air pun kadang mereka tak sempat karena harus berburu waktu untuk mendapatkan botol bekas yang menjadi jaminan hidup mereka.

Ibu tiri memang kejam namun ibu kota lebih kejam dengan tantangan hidup yang harus mereka jalani. Apakah mereka malas? Tentu tidak, karena sejak pagi buta hingga menjelang senja mereka ada di jalan. Lalu, Apakah arti belajar bagi mereka? hakikatnya mereka ingin dan punya cita cita hidup lebih baik di masa depan namun belajar bagi mereka masih urutan ke sekian jika dibandingkan dengan urusan perut sehari hari.

Ibu mereka belum sanggup menjamin untuk tetap sekolah pada masa pandemi ini. Jangankan membelikan HP dan paket internet hasil botol bekas yang didapat seharian dari gelap ke gelap lagi belum cukup memenuhi kehidupan sehari hari.

Pendidikan di kota memang murah dengan adanya jaminan dari gubernur namun apakah kebutuhan perut ini juga tidak penting? mungkin itulah yang ada di benak sebagian anak pemulung. Membantu kehidupan orangtua dengan jalan memulung botol bekas mereka angggap lebih penting dari belajar.

Sungguh ironi ditengah upaya dinas pendidikan untuk membangun sumberdaya manusia melalaui berbagai kemudahan akses pendidikan bagi warga kota. Akses pendidikan harus berkorelasi dengan akses ekonomi karena hidup ini harus terus dan akan terus berjalan hari ini dan hari esok harus makan.

Tidak semua punya akses yang mudah untuk mendapatkan KJP atau bantuan lannya, sebagian lagi belum tersentuh malaikat penyambung hidup di kota besar ini.

Saat ditemui, Didi dan Dini sedang mengais rongsokan di jalanan dengan baju lusuh dan badan yang kotor. Namun mereka tetap sabar walau masa kecilnya harus direnggut di jalanan kota dan harus menjemput rejeki dari botol bekas yang jarang pula ditemui.

Mereka hanya tinggal bersama ibunya di gubuk semi permanen dan membantu mengais rongsokan untuk makan sehari hari. Ini sekilas jawaban dari meraka “Paling aku sama adek itu kalau mulung cuma dapet  Rp. 5.000 kak, kadang Rp. 10.000,” kata Didi.

Untuk makan sehari hari saja mereka cukup kesulitan. Kondisi ekonomi memaksa Didi harus putus sekolah sejak kelas 1 SMP. “Didi pengen sekolah lagi kak kayak dulu. Bisa belajar kelompok sama teman dan bisa bercanda di sekolah,” kata Didi.

“Rindu kayaknya dengan candaan teman-teman di sekolah dan rindu wejangan guru guru,” kata Didi. Dia menambahkan, “Dini sebentar lagi akan memasuki usia sekolah, tapi tak tahu apakan ada uang untuk masuk sekolah?” kata Didi. Inilah sepenggal kisah anak anak jalanan yang mungkin masih banyak kisah yang tak tertulis dalam tulisan singkat ini.

Potret anak pemulung ini hampir terjadi di semua pinggiran kota. Bagaimana masa depan mereka? Meraka adalah anak-anak masa depan negeri ini yang memerlukan uluran tangan siapapun yang punya hati nurani. Hiruk pikuk suasana kota dan pasang surut pandemi Covid-19 seakan menenggelamkan kisah nyata ini.

Selama ini kita dan pikiran kita penuh dengan berita covid-19 dan seakan menutup mata akan realita dari orang orang yang tak beruntung. Jangan sampai kita sibuk memiikirkan diri sendiri dan ketakutan dengan wabah pandemik ini semata dan tidak melihat ke kanan kiri kita betapa banyak orang yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan kita.

Dalam ajaran agama umat islam dianjurkan untuk saling tolong menolong dan memudahkan urusan orang lain. “Maka Allah SWT akan melepaskan dirinya dari suatu kesusahan pada hari kiamat kelak, serta akan memudahkannya di dunia dan akhirat”.

Pada prinsipnya agama menganjurkan kita untuk saling tolong menolong dan memudahkan urusan orang lain jika ingin dimudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Pertolongan yang diberikan Allah tergantung pada pertolongan yang diberikannya antar manusia.

Ayo Ringankan Beban Mereka!

Lalu, bagaimana peran kita untuk menolong mereka yang tidak beruntung yang hidup di jalanan? Jangan sampai masa depan mereka sesuram kehidupan orang tuanya. Siapa pun bisa berperan dan meringankan beban meraka. Apapun itu kita dapat berperan serta dan jangan anggap ini hanya tugas pemerintah dan menjadi alasan kita tidak berperan mengatasi problem sosial ekonomi ini.

Kalau kita hanya punya masker boleh kita berikan masker untuk keseharian mereka, kalau kita punya makanan dan minuman untuk keseharian mereka tentu sangat bermanfaat untuk para pemulung ini dan tentunya jika kita bisa manjamin kebutuhan ekonomi dan pendidikan mereka tentu lebih utama.

Jangan biarkan mereka terus bergelut dengan sampah dengan hasil yang tidak seberapa. Jangan biarkan mereka berkeliaran di jalanan saat anak seusianya duduk manis di depan laptop menikmati belajar jarak jauh.

Ayo tunjukkan kepedulian kita pada mereka yang kurang beruntung dengan membuat komunitas dan kepedulian yang lebih besar sehingga akan banyak anak anak yang dapat tersenyum menikmati sepotong kue sambil belajar dalam jaringan selama pandemi covid-19 ini.

Jadikanlah masa pandemik ini sebagai jalan untuk untuk bersama dengan melihat ke kiri dan kanan kita dengan berbagi apapun yang kita punya untuk kemaslahatan dan kebaikan lingkungan dimana kita tinggal.

Hadapi covid-19 ini dengan gagah berani penuh kasih sayang dan mau berbagi kepada mereka yang membutuhkan terutama anak anak yang tidak beruntung karena hakekatnya mereka juga punya hak untuk makan dan belajar dengan tenang seperti anak anak yang lainnya.

Jadilah pelopor di lingkungan masing masing dalam ikatan yang kuat dalam komunitas agar kekuatan kian membesar untuk memberikan pertolongan yang lebih besar lebih bermakna dan bermanfaat “bersama bisa” bersama hadapi pandemik untuk senyum indah anak anak penjemput rezeki di jalanan karena itulah kita ada.

Jadikan mereka sebagai sahabat, jangan jauhi mereka, rangkul mereka dan beri kenyamanan untuk masa depan yang lebih baik.

(Tulisan opini dari Iman Fathurohman, Guru Geografi SMAN 67 Jakarta)

0Shares

1 thought on “Anak-Anak Penjemput Rezeki di Jalanan: Bagaimana Masa Depan Mereka?

  1. Sangat menginspirasi…. Ulurkan tangan…. bantu mereka…. agar dapat hidup layak seperti anak2 yang lain….
    Mantap Pak Iman Faturrahman…. 👍👍👍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright TopBekasi.ID © All rights reserved. | CoverNews by AF themes.