Pedoman Perlindungan Anak Hadapi Ancaman Covid-19 Setelah Trend Tinggi Corona Serang Anak-Anak

Covid-19 Pada Anak. Foto; Antara

JAKARTA – Kasus Covid-19 pada anak jarang terjadi. Namun di Ibu Kota Negara DKI Jakarta, tren kasus positif aktif pada anak di bawah usia 18 tahun meningkat. Per Senin (21/6/2021), nyaris seribu anak terpapar Corona di DKI Jakarta.

Wabah Covid-19 yang ditemukan menjangkiti manusia sejak Desember 2019 belumlah berhasil diperangi secara maksimal.

Berbagai upaya terus dilakukan demi memberangus aktivitas virus SARS COV-2 yang telah mengakibatkan terjadinya 177.758.806 kasus infeksi di dunia dan menyebabkan 3.849.294 orang meninggal.

Kini, trend anak-anak terpapar Corona pun meningkat tajam. Padahal berdasarkan informasi yang beredar diketahui, sejak awal pandemi Covid-19, baik WHO, UNICEF, dan banyak ahli, cenderung mengatakan bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus corona itu jarang dialami anak.

Baca Juga: Top 7 Warung Gabus Pucung Betawi di Bekasi, Rasanya Gurih Banget!

Agaknya itulah sebabnya, tidak banyak negara yang memiliki panduan khusus perlindungan Covid-19 bagi anak.

Dikutip dari Indonesia.go.id, Indonesia merupakan salah satu negara yang diketahui telah memiliki panduan perlindungan dari ancaman Covid-19 bagi anak.

Adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang telah menerbitkan panduan dengan judul “Pedoman Umum Perlindungan Anak Penanganan Covid-19” itu.

Baca Juga: Akhir Pekan Lagi, Nyok Sambangin Curug Parigi, Air Terjun Berjuluk Niagara Mini di Bekasi

Disebutkan pada bagian muka, pedoman itu diperuntukkan bagi seluruh gugus tugas, aktivis, relawan, dan masyarakat yang terlibat dalam penanganan Covid-19 dengan memperhatikan prinsip-prinsip pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak.

Pada bagian satu pedoman itu, dituliskan bahwa “setiap anak tanpa kecuali berhak mendapatkan hak, perlindungan, dan informasi yang jelas tentang pencegahan dan penularan Covid-19”.

Pedoman yang terdiri dari 16 poin itu, termasuk di dalamnya mengatur tentang keharusan seluruh anggota gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, aktivis, relawan, dan seluruh masyarakat yang terlibat dalam penanganan Covid-19 menandatangani dan melaksanakan code of conduct perlindungan anak.

Baca Juga: Masyaa Alloh, Ingin Berhaji, 2 Pemuda Asal Gorontalo Nekad Gowes ke Tanah Suci Mekkah

Sayangnya, pada gelombang kedua pandemi Covid-19 ini, ada tren kenaikan angka anak terjangkit Covid-19 di Indonesia, khususnya DKI Jakarta.

Seperti disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia, Kamis (17/6/2021), dari total 4.144 kasus positif hari itu, sebanyak 661 kasus atau 16 persen di antaranya adalah anak usia 0-18 tahun. Dari jumlah itu, secara spesifik, 144 kasus tercatat adalah balita.

Adanya tren peningkatan kasus positif aktif pada anak di bawah usia 18 tahun itu, membuat Dwi pun bergegas membuat peringatan agar anak-anak tidak dibiarkan berada di luar rumah. “Untuk itu, kami mengingatkan warga untuk menghindari keluar rumah membawa anak-anak,” ujarnya.

Baca Juga: Nasi Uduk Bang Bule: Top Kuliner Otentik Betawi-Bekasi yang Kini Buka Lebih Sore

Peringatan itu sangat patut mendapat perhatian. Pasalnya, muncul kekhawatiran varian baru virus SARS COV-2, yakni varian Delta (B.1617.2) yang pertama kali ditemukan di India, lebih menular di kalangan anak-anak.

Dilaporkan CNBC.com pada Rabu (16/6/2021), transmisi virus corona varian Delta, yang saat ini mendominasi di Inggris, meningkat di kalangan anak-anak usia 12 hingga 20 tahun.

Sementara itu, laporan dari BMJ.com, sebuah situs penyedia informasi kesehatan global, menyingkap data dari Badan Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE) yang mencatat ada sebanyak 140 klaster penyebaran varian Delta di sekolah hingga akhir Mei 2021.

“Data dari PHE menunjukkan penularan tertinggi terjadi pada anak-anak usia sekolah menengah, yakni antara 10 hingga 19 tahun,” tulis BMJ.com.

Baca Juga: Unik dan Bersejarah, Ini 3 Top Jembatan di Bekasi yang Wajib Dikunjungi

Varian Delta yang pertama kali teridentifikasi pada Oktober tahun lalu, dan kini sudah menyebar ke lebih dari 80 negara.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Profesor Aman Bakhti Pulungan menyebutkan, kendati belum ada data yang valid tentang kaitan antara Covid-19 dan kematian pada anak, catatan yang ada menunjukkan kenaikan angka kematian anak hingga 50 persen selama pandemi.

Setidaknya, menurut Profesor Aman, ada 1.000 kematian anak di Indonesia setiap minggunya sejak pandemi Covid-19 melanda. Padahal sebelumnya, pada 2019, kata dia, jumlah kematian pada anak cenderung menurun.

Lantas mungkinkah vaksinasi diberlakukan bagi anak? Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, upaya perlindungan serupa itu masih menunggu rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), organisasi profesi, dan ITAGI.

Baca Juga: Nyarap Yuk ! Ini Dia Top 10 Ketupat Sayur Padang di Bekasi

Hal itu dilakukan, sambung dia, untuk melihat vaksin mana yang bisa digunakan untuk anak-anak nantinya.

“Apakah vaksin itu sudah ada di negara kita, artinya jenis vaksinnya itu, misalnya, Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Novavax, atau harus mencari jenis vaksin baru. Jadi, proses itu nanti kita tunggu saja rekomendasi dari khususnya dari badan POM dan ITAGI, dan IDAI terkait pemilihan vaksinnya,” pungkasnya, dalam diskusi virtual, Senin (31/5/2021).

Sejauh ini beredar informasi bahwa vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech diklaim aman dan efektif pada usia 12-15 tahun, berdasarkan hasil uji klinis terbaru.

Selain upaya vaksin tersebut, tentu saja orang tua wajib melindungi anak mereka dari bahaya paparan virus Corona. Antara lain menjalani protokol kesehatan dengan ketat dan tidak berada di luar rumah terlebih dahulu.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright TopBekasi.ID © All rights reserved. | CoverNews by AF themes.