Misi Endra Kusnawan, Kumpulkan Pejuang Bekasi Dalam Buku Serial “Pejuang Bekasi di Era Perang Revolusi”

Pejuang Bekasi

Men of the 4/7th Rajputs and a Sherman tank of the 13th Lancers on the outskirts of Bekassi during a reconnaissance in force to locate positions held by Indonesian nationalists. No 9 Army Film & Photographic Unit Wright W B (Sergeant)

TAMBUN UTARA – Bekasi adalah Kota Patriot, karena banyak pejuang angkat senjata di masa perang kemerdekaan hingga perang revolusi di Bekasi. Namun, literasi sejarah soal para pejuang Bekasi atau pahlawan Bekasi sangat minim.

Endra Kusnawan, seorang pegiat sejarah Bekasi yang terusik akan minimnya catatan sejarah seputar pahlawan Bekasi akhirnya mengumpulkan sosok-sosok pejuang tersebut dalam buku serial “Pejuang Bekasi di Era Perang Revolusi”.

Soal para pahlawan Bekasi ini, jangankan masyarakat Bekasi, kalangan keluarga sendiri sering kesulitan dalam menemukan kisah perjuangan bapak atau kakek mereka di masa perang kemerdekaan.

“Tidak begitu banyak kenangan (seputar bapak) karena beliau meninggal saat saya masih Balita. Hanya dapat saat mendengarkan dongeng Mang Jaya di Radio bareng-bareng saat malam hari,” ungkap Raden Agah Handoko anak dari Rd Mardzuki.

Agah Handoko mengatakan, cerita tentang bapaknya juga didapat dari Mimih yang Alhamdulilah masih sehat hingga saat ini dan catatan harian milik bapak. “Mimih bercerita tentang Bapak yang habis-habisan disiksa NICA selama dua tahun di penjara di masa Perang Revolusi Kemerdekaan,” jelas Agah.

Baca Juga: Nasi Uduk Betawi Mpok Haji Nunung di Tambun, Lejen & Rasa Otentik Banget!

Melalui pengumpulan bahan-bahan serta acap berdiskusi di group Facebook Wisata Sejarah Bekasi, Endra Kusnawan membuat perjalanan lengkap perjuangan Raden Mardzuki dari Cibarusah dalam buku “Pejuang Bekasi di Era Perang Revolusi”.

Dalam serial perdana ini, buku setebal 118 dengan penerbit Bianglala Publishing ini juga memuat kisah perjuangan lima pahlawan lainnya. Antara lain, Mualim dari Warung Bongkok, Arnaen dari Warung Bongkok, Nausan dari Gabus, Djole dari Kota Bekasi, dan Husein Kamaly dari Kranji.

Endra Kusnawan mengatakan, pemilihan para pejuang ini berdasarkan catatan sejarah dari para pelaku sejarah sendiri. Di antaranya, oleh Husein Kamaly dalam bukunya tahun 1970 yang membuat daftar pejuang-pejuang di Bekasi.

Baca Juga: Gurih Banget, Ini Top 15 Rumah Makan Padang di Bekasi

Alasan kedua ialah dokumen yang dibuat Belanda pada 26 Januari 1946. Dokumen tersebut berisi Daftar Pencarian Orang (DPO). Belanda memuat DPO beberapa tokoh di masing-masing daerah di Bekasi.

Kala perang mempertahankan kemerdekaan, di Bekasi sering terjadi peperangan mulai dari yang kecil hingga besar. Karena Jakarta tempat pihak sekutu bermarkas, dan Cikampek (Karawang) tempat pihak pejuang bermarkas. Di Bekasi lah kedua belah pihak bertemu, lalu berperang.

Kharis Suhud, Ketua DPR/MPR periode 1987-1992, selaku pelaku sejarah yang pernah bertempur di Bekasi mengatakan, perang-perang yang terjadi di front Timur Jakarta memang tidak spektakuler seperti daerah lain.

“Akan tetapi perang yang terjadi lebih cenderung kecil-kecil dan terus-menerus tanpa kesudahan. Strategi perang yang digunakan adalah gerilya,” ungkap Endra Kusnawan yang juga Ketua Komunitas Historia Bekasi.

Baca Juga: Top 7 Warung Gabus Pucung Betawi di Bekasi, Rasanya Gurih Banget!

Di Bekasi, kelompok pejuang yang bertempur tidak hanya satu atau dua saja, banyak. Namun secara umum, terdapat dua kelompok besar pejuang, pihak BKR/TKR/TNI yang merupakan dari unsur pemerintah dan laskar dari unsur masyarakat.

Sedangkan dari laskar terdapat Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Barisan Rakyat (BARA), Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR), Laskar Angkatan Comoenis Moeda (Acoma), Laskar Wanita (Laswi), Hizbullah, Sabilillah, Markas Pusat Hizbulla Sabilillah (MPHS), Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), SP 88, Divisi Bambu Runcing, dan lain-lain.

Endra Kusnawan (kiri), penulis buku “Pejuang Bekasi di Era Perang Revolusi. Foto: Endra Kusnawan

Dari pertempuran inilah, lahir banyak pejuang-pejuang asal Bekasi. Sebagai pegiat sejarah, Endra Kusnawan terusik untuk mendokumentasikan sosok-sosok pejuang tersebut. Mereka yang memimpin rakyat bertempur melawan penjajah.

Buku “Pejuang Bekasi di Era Perang Revolusi” sendiri telah diluncurkan menjelang perayaan 17 Agustus 2021, persisinya Rabu (2/6) di Gedung Juang Tambun Kabupaten Bekasi. Acara spesial ini dihadiri pihak keluarga dari masing-masing pejuang.

Baca Juga: Top 10 Nasi Uduk Betawi di Bekasi, Semurnya Jangan Lupa!

Dalam mewujudkan buku ini, Endra mengaku berjuang keras karena sulitnya mencari referensi para pejuang tersebut. Beruntung, enam orang pejuang Bekasi akhirnya bisa diselesaikan dan disatukan dalam buku “Pejuang Bekasi di Era Perang Revolusi”.

Karena Bekasi Kota Patriot, masih ada ribuan pejuang lainnya yang harus dibuat profilnya. Dia berjanji, akan menghadirkan buku selanjutnya.

“Dengan adanya buku ini orang Bekasi (bisa,Red) melek bahwa orang Bekasi yang berjuang itu banyak. Enggak hanya satu dua orang saja,” ungkapnya.

Baca Juga: Situ Abidin, Destinasi Wisata Tersembunyi di Karangmulya

Eko Jatniko keluarga pejuang Arnaen, menyatakan syukur atas terbitnya buku “Pejuang Bekasi di Era Perang Revolusi”. “Literasi para pejuang di Kabupaten Bekasi sangat minim. Makanya saya bersyukur dan mengapresiasi dengan munculnya buku ini,” ujarnya.

Bagi Raden Agah Handoko, buku ini laksana kado atas 111 tahun bapaknya, Rd Mardzuki. Semoga buku “Pejuang Bekasi di Era Perang Revolusi” Karya Endra Kusnawan ini bermanfaat buat masyarakat dan keluarga,” tandasnya.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright TopBekasi.ID © All rights reserved. | CoverNews by AF themes.