Ngerih! Laut Jakarta Tercemar Paracetamol yang Diduga Berasal Dari Limbah RS & Farmasi

Laut jakarta tercemar paracetamol oleh limbah rumah sakit dan industri farmasi. Foto: @yusrizal djatar

JAKARTA UTARA – Kabar buruk tentang pesisir utara Jakarta atau laut Jakarta bertambah lagi. Dari penelitian terbaru, ditemukan bahwa laut Jakarta tercemar paracetamol. Tau khan paracetamol, kandungan farmasi yang digunakan di banyak obat di Indonesia.

Sebelum ada kabar paracetamol di laut Jakarta, kondisi buruk Jakarta sudah banyak diketahui. Antara lain, oleh limbah sampah, deterjen, hingga limbah kapal seperti oli, dll. Biota laut di pantai Jakarta pun tercemar. Bahkan hanya untuk makan kerang saja, diwanti-wanti jangan yang didapat nelayan dari pantai Jakarta.

Kabar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Sabtu (2/10/2021) menyatakan, terdapat kandungan paracetamol di dua titik di Teluk Jakarta, yakni Muara Angke dan Ancol.

Dari dugaan sementara, pencemaran paracetamol di laut Jakarta berasal dari limbah rumah sakit (RS) dan industry. Zainal Arifin, peneliti BRIN mengatakan, pencemaran Paracetamol berasal dari pembuangan konsumsi yang berlebihan dari rumah sakit dan industri farmasi.

Baca Juga: Jika Ngalong di Bekasi, Jajal Nasi Uduk Mantap di Indoporlen-Tambun, Semur Jengkolnya Top Banget!

Ditambahkannya, jumlah penduduk di kawasan Jabodetabek sangat tinggi. Mereka dengan bebas mendapatkan paracetamol yang diperoleh tanpa resep dokter.

Buruknya lagi, rumah sakit dan industri farmasi tidak memiliki sistem pengelolaan air limbah yang berfungsi optimal. Akibatnya, sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai dan akhirnya ke perairan pantai.

Dengan adanya kandungan paracetamol di laut Jakarta, berpotensi membahayakan hewan laut dan biota laut lainnya. Hasil penelitian di laboratorium, menemukan bahwa pemaparan parasetamol pada konsentrasi 40 ng/L telah menyebabkan atresia pada kerang betina, dan reaksi pembengkakan.

BRIN mengabarkan, dibandingkan dengan pantai-pantai lain di belahan dunia, konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta adalah relatif tinggi (420-610 ng/L). Pantai Brazil (34,6 ng/L), sementara pantai utara Portugis (51,2 -584 ng/L).

Baca Juga: Nyook, Jajan Makanan Khas Betawi di Situ Cibeureum

Meskipun memerlukan penelitian lebih lanjut, namun beberapa hasil penelitian di Asian Timur, seperti Korea Selatan menyebutkan bahwa zooplankton yang terpapar paracetamol menyebabkan peningkatan stress hewan, dan oxydative stress, yakni ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antiosidan, yang berperan dalam mempertahankan homeostasis

Penelitian ini dilakukan bersama oleh sejumlah lembaga. Antara lain, School of Pharmacy and Biomolecular Sciences, University of Brighton, Lewes Road, Brighton, United Kingdom Centre for Aquatic Environments, University of Brighton, Lewes Road, Brighton, United Kingdom, dan Research Center for Oceanography, Indonesian Institute of Sciences (LIPI/BRIN).

Tim melakukan analisis sampel yang dikumpulkan di empat lokasi Teluk Jakarta, dan satu lainnya di pantai utara Jawa Tengah. Hasil penelitian pun telah dimuat dalam jurnal Science Direct, Agustus 2021.

Perkuat Tata Kelola Air Limbah

Dari penemuan ini, BRIN berharap pemerintah melakukan penguatan tata kelola pengelolaan air limbah untuk rumah tangga, kompleks apartemen, dan industri.

Baca Juga: Unik dan Bersejarah, Ini 3 Top Jembatan di Bekasi yang Wajib Dikunjungi

“Tugas setiap kita baik industri maupun masyarakat untuk menjaga kesehatan manusia dan kesehatan lingkungan, termasuk laut. Semua itu agar kita dapat hidup lebih bermakna,” kata Zainal.

Begitu pula alam pemakaian produk farmasi (obat, stimulan), publik perlu lebih bertanggung jawab, misalnya tidak membuang sisa obat sembarangan. “Ini yang tampaknya belum ada. Perlu ada petunjuk pembuangan sisa-sisa obat,” tandas Zainal.

@yusrizal djatar

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright TopBekasi.ID © All rights reserved. | CoverNews by AF themes.