Ketua Umum FBR: Maulid Nabi Sudah Mengakar di Betawi, Begini Orang Betawi Memaknai Maulid Nabi!

KH Lutfi Hakim, pertahankan tradisi Maulid di setiap acara masyarakat Betawi.

CAKUNG – Jakarta Timur – Kebahagiaan Maulid Nabi selalu terasa di lingkungan masyarakat Betawi. Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR) KH Lutfi Hakim menyatakan, saking bahagianya dengan Maulid Nabi, momen maulid selalu ada dalam setiap acara orang Betawi.

Hari ini, Selasa (19/10/2020) umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia tengah gembira menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meski libur nasional Maulid Nabi diundur besok, Rabu, namun tidak mengurangi kebahagiaan tersebut.

Pasalnya, kata KH Lutfi Hakim, momen Maulid Nabi selalu ada dalam banyak kegiatan orang Betawi, terutama pada acara-acara kebahagiaan.

Bagi masyarakat Betawi, jelas KH Lutfi Hakim, Maulid adalah siklus kehidupan bagi masyarakat itu sendiri. Siklus ini sudah dimulai sejak mereka dalam kandungan, saat memasuki usia tujuh bulan diadakan selametan “Nujuh Bulanan” dengan membacakan kisah Maulid Nabi SAW.

Baca Juga: Top 7 Warung Gabus Pucung Betawi di Bekasi, Rasanya Gurih Banget!

“Ketika Janin itu lahir, diadakan ritual “Gunting Rambut” atau “Akikahan” pada hari ketujuh atau keempat puluh hari dari kelahirannya. Kembali ada bagian pembacaan Kisah Maulid Nabi SAW,” kata Ketua Umum FBR yang orang asli Cakung, Jaktim.

Selanjutnya, saat dilakukan khitan, sebelum seorang anak memasuki usia akil baligh; lalu saat melakukan lamaran pernikahan dan saat pelaksanaan akad nikah. Semuanya sudah pasti dirayakan dengan pembacaan Maulid Nabi yang Agung.

“Bahkan dalam setiap momentum yang ada, baik pindah rumah, kelulusan anak atau momen kebahagiaan lainnya,” tegas KH Lutfi Hakim, pemilik gelar gelar sarjana (S1) Dakwah dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Master Agama (S2) dari Universitas Assafiiyah, Jakarta ini.

Baca Juga: Mojang & Jajaka Jabar 2021: 2 Wakil Kabupaten Bekasi Bang Emran & Mpok Sanny Sukses Raih Mojang Wakil 1

Sambil berkelakar, Ketua Umum FBR bilang, hanya saat pasangan suami isteri akan bercerai saja, perayaan Maulid tidak dilaksanakan. “Soalnya, saat sepasang suami isteri akan bercerai, lalu keduanya merayakan Maulid, perceraiannya bisa cepet batal,” tuturnya.

Jadi, pada dasarnya, perayaan Maulid bagi masyarakat Betawi adalah berusaha memaksimalkan kehadiran aura suci Rasulullah dalam kehidupan mereka, sehingga menjadi berkah dan lebih optimis memandang hidup. Hidup lebih berharga sepahit apapun pengalaman yang dirasakan.

Baca Juga: Gurih Banget, Ini Top 15 Rumah Makan Padang di Bekasi

Selanjutnya, KH Lutfi Hakim berharap peringatan maulid dalam mengenang Nabi untuk mendapatkan berkahnya akan selalu terjaga dalam setiap acara orang Batawi.

Sebab Maulid Nabi di zaman sekarang, hanya dipahami saat datangnya tanggal 12 Rabiul Awwal. “Jadi harapan kita, Maulid Nabi akan terus ada di banyak kesempatan, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Betawi sejak dulu,” tandas Ketua Umum FBR.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright TopBekasi.ID © All rights reserved. | CoverNews by AF themes.